Belajar Cepat Olahraga Bridge

Bridge adalah jembatan. Itulah yang menjadi dasar pemikiran untuk mengembangkan permainan kartu menjadi cabang olahraga otak bernama Contract Bridge. Seperti cabang-cabang olahraga lain, sportivitas adalah pijakan utama dalam menjalankan permainan ini. Berani mengakui keunggulan lawan dan kelemahan diri, jujur bersikap serta siap bersaing dengan adil.

Sesuai namanya, cabang olahraga otak ini dimainkan secara berpasangan (pair Game). Satu pasanga bertindak sebagai penyerang (declarer / deklerer) dan lainnya bertahan (defender). Jadi, untuk dapat bermain Bridge harus ada empat orang. Dengan kemajuan teknologi informasi berbasis internet, sekarang Bridge telah dimainkan secara online. Sebagian pemainnya bahkan dapat digantikan dengan robot.

Permain Bridge memakai kartu yang sama dengan minuman (cangkulan), remi, poker dan lainnya. Kartu yang terdiri dari 4 (empat) warna : Spade [ ♠ ] , Heart [] , Diamond [ ] dan Club [ ♣ ]. Setiap warna kartu berjumlah 13 lembar, terdiri dari : A, K, Q dan J yang disebut Kartu Honor (High Card) serta 9 lembar Kartu Biasa ( 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3 dan 2).

Dalam permainan Bridge, Kartu Honor diberi nilai sebagai berikut:

  • A = 4
  • K = 3
  • Q = 2
  • J = 1

Karena ada 4 warna, maka total nilai Kartu Honor dalam permainan Bridge = 4 x 10 = 40.

Untuk bermain Bridge, kita memerlukan 4 orang pemain yang dibagi menjadi 2 pasang. Satu pasang (2 orang) bertindak sebagai lawan bagi pasangan lainnya.

Bridge adalah olahraga berpasangan (pair games)

Jika kita membeli kartu di warung, ambil dua lembar Joker dan sisihkan. Lalu kocok dan bagikan sampai habis kepada semua pemain. Cara membaginya berurutan mengikuti arah jarum jam (ke kanan). Misalnya, pemain yang duduk di sisi Utara (U) yang membagi kartu atau disebut dealer. Kartu pertama diberikan kepada Timur (T), lalu Selatan (S), Barat (B) dan terakhir untuk dirinya. Inilah etika dalam permainan Bridge.Sehingga, kartu terakhir adalah untuk pembagi (U) dan masing-masing pemain telah menerima 13 lembar kartu.

Susun kartu yang kita pegang secara berurutan dari yang terbesar (misalnya A) sampai terkecil (2). Untuk memudahkan, cara menyusun kartu adalah berselang seling warnanya: hitam-merah-hitam dan merah atau sebaliknya.

Mari kita perhatikan contoh kartu-kartu yang dipegang oleh setiap pemain berikut ini

Rounded Rectangle: Contoh
Distribusi
Salah satu contoh distribusi kartu

Kartu-kartu yang telah dibagikan kepada setiap pemain disebut distribusi kartu. Dari sini, kita akan menghitung nilai kartu Honor setiap pemain.

 Utara 
 1074 
  KJ98  
  1092  
BaratJ82Timur
AQ65KJ32
AQ654 2
Q7 AJ643
KQ 753
  Selatan  
 98 
 1073 
 K85 
 A10964 
  • Nilai kartu honor (HCP) Utara = 3 + (1×2) = 5HCP
  • Nilai Timur = 3 + (1×2) + 4 = 9HCP
  • Nilai Selatan = 3 + 4 = 7HCP
  • Nilai Barat = (4×2) + (2×4) + (1×3) = 8 + 8 + 3 = 19HCP

Total nilai kartu = 5 + 9 + 7 + 19 = 40HCP

Dalam bermain Bridge, ada tiga tahap yang harus dilalui: penawaran (bidding), permainan (playing) dan penilaian (scoring). Semua tahap ada aturan dan tata caranya. Penawaran memakai sistem baku yang harus dipahami dengan baik oleh kedua pasangan pemain (Covention Card) terutama jika menggunakan modifikasi sistem. Misalnya, sebelum bermain, biasanya masing-masing pasangan akan bertanya sistem penawaran yang digunakan. Adakah perubahan atas sistem baku yang telah diketahui oleh masyarakat Bridge Internasional ? Hal yang mengandung nilai sportivitas seperti inilah yang membuat Contract Bridge dikelompokkan sebagai cabang olahraga otak.

(bersambung)

Mampukah Kontingen SEA Games 2019 Mengembalikan Kejayaan Indonesia di Era 1980 dan 1990-an ? [Bagian 2]

antarafoto-selebrasi-emas-pertama-sea-games-291119-sgd-6_ratio-16x9

Pada tulisan pertama , pertanyaan amburadulnya prestasi (olahraga) Indonesia salah siapa. secara tersirat telah ada jawabannya. Lompatan prestasi sebagaimana dikatakan oleh Presiden Jokowi saat memberi bonus kepada para peraih medali di Istana Negara sehari setelah penutupan ajang olahraga prestasi terakbar se benua Asia 2018, secara kuantitatif memang meyakinkan. Dari 31 emas yang disumbangkan, 14 di anataranya berasal dari cabor Pencaksilat. Cabor tradisional Indonesia yang telah naik kelas menjadi olahraga dunia memang layak mendapatkan kehormatan dan seharusnya begitu. Dan peristiwa spektakuler juga hadir di tengah pemberian tanda kehormatan atas prestasi yang diraih oleh Pesilat Hanifan Yudani yang mampu merangkul dua kandidat capres Pemilu 2019 yang sering diberitakan tengah berseteru adalah catatan khusus.

Dalam beberapa tulisan sebelumnya, prestasi olahraga adalah satu diantara dua momen penting dalam menunjukkan jati diri sebagai bangsa berdaulat. Seorang juara pertama atau peraih medali emas dalam pesta olahraga antar bangsa, selain naik di podium tertinggi, ia atau tim itu akan diberi penghormatan khusus dengan Lagu Kebangsaan dan pengibaran benderan nasionalnya. Momen lain adalah penghormatan bagi tamu negara (Presiden/ Wakil Presiden atau pejabat tinggi yang mewakili). Masih ingat peristiwa penganugerahan medali emas cabor Pencaksilat di arena Asian Games 2018 yang dapat menyatukan dua capres dalam rangkulan merah putih ? Hanya atlet yang mampu melakukannya.

SEA Games 2019 yang secara resmi baru akan dibuka Jumat lusa adalah momentum bagi Indonesia untuk memperbaiki citra olahraga prestasi yang sempat membuat “kejutan” di ajang Asian Games 2018 lalu, dengan menempatkan diri di jajaran lima besar. Dan memunculkan berbagai peristiwa memalukan yang menyeret para pejabat teras dua organisasi besar penyelenggara kegiatan olahraga prestasi di Indonesia yakni Kemenpora dan KONI.

Jumlah atlet yang akan mengikuti SEA Games ke-30 tahun 2019 adalah sebanyak 841 atlet dengan didampingi pelatih dan ofisial sebanyak 256 orang dan dukungan tim medis, tim keolahragaan dan berbagai unsur pendukung lainnya sehingga totalnya berjumlah 1.303 orang. Sasaran antara untuk meraih prestasi di Asian Games dan Olimpiade yang menjadi target utama. “Komposisi kontingen SEA Games ke-30 ini terdiri dari 60% atlet junior dan 40% atlet senior hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi atlet-atlet muda kita untuk merasakan atmosfir multievent internasional sehingga dapat berprestasi di masa yang akan datang, ujar Menpora sebagaimana dikutip dari laman Kemenpora.

Di cabor atletik misalnya, dengan menyimpan Lalu Mohammad Zohri yang disebut-sebut telah masuk kelas Asia dan dunia dan memasukkan atlet-atlet lapis berikutnya, selain memberi kesempatan menambah jam terbang juga sebagai ajang pembuktian bagi mereka. Banyak atlet daerah yang masuk pelatnas masih berusia muda. Mereka sebagian besar telah berprestasi secara nasional di berbagai ajang kejuaraan semisal Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) maupun Pomnas (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional). Baik yang dibina oleh klub maupun pusat-pusat pelatihan olahraga yang tersebar di hampir semua provinsi. Ada yang dibina di PPLP/ PPOP, pemusatan latihan daerah (pelatda) di ibukota provinsi serta klub-klub atletik seperti Dragon Salatiga dan sebagainya.

Keputusan mengedepankan kesempatan bagi atlet junior (60%) akan membawa dampak psikologis yang memotivasi pengurus cabang-cabang olehraga prestasi, pelatih dan para pembina di berbagai tingkatan yang dikordinasikan oleh KONI untuk kian bersemangat dalam mengoptimalkan sumber-sumber daya keolahrgaan yang masih tergolong langka terutama di daerah. Khususnya daerah yang dikategorikan “miskin” seperti Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ada sejumlah atlet potensial berprestasi yang masuk dalam pelatnas dari cabor atletik, hockey dan lainnya. Kebijakan pemerintah pusat ini setidaknya memberi sinyal bagi pemerintah daerah untuk melakukan hal yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan bahwa pembinaan atlet berprestasi adalah langkah strategis dengan pendekatan manajemen dan teknologi keolahragaan yang maju.

Tentang target menjadi runner up, Presiden Jokowi nampaknya ingin memberi pesan kepada seluruh pemangku kepentingan olahraga prestasi nasional dan daerah (utamanya) untuk senantiasa bersikap optimis dan berpikir positif. Bahwa, selain faktor-faktor teknikal seperti ketersediaan fasillitas keolahragaan yang memadai untuk menyongsong perjalanan ke puncak prestasi tertinggi dan sistem keolahragaan nasional yang dikelola dengan pendekatan terdepan. Hal terpenting dari semua kriteria obyektif (biasa disebut begitu), faktor budaya harus dijadikan landasan utama dalam penyelenggaraan sistem keolahragaan nasional. Sebagaimana kita tahu, semangat gotong royong yang merupakan ciri khas manusia Indonesia akhir-akhir ini kian meredup dengan maraknya perilaku saling curiga, berprasangka buruk, pesimistik dan sebagainya.

Sesuai sifat dasarnya, olahraga adalah membangun jiwa dan raga yang sehat. Mens sana incorpore sano. Demikian juga tujuan Bangsa Indonesia yang sejatinya ingin membangun jiwa dan raga manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Berolahraga artinya membangun diri sehat jiwa (senantiasa berpikir positif, strategis dan lainnya) serta raga yang tak hanya kuat fisik dan tahan atas beragam ancaman penyakit. Semoga demikian isi tangkapan layar penulis atas pesan Presiden Jokowi kepada anggota Kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019 ini.

Mampukah Kontingen SEA Games 2019 Mengembalikan Kejayaan Indonesia di Era 1980 dan 1990-an – Bagian 1

Tinju - Brian Aldi

Perhelatan olahraga akbar bangsa-bangsa se Asia Tenggara (SEA Games2019 Filipina gaungnya mulai terasa di tanah air. Apalagi setelah Timnas sepakbola U22 memenangi pertandingan perdana atas rival kuat, Thailand, dengan skor cukup menyakinkan 2 – 0. Dua gol disumbangkan oleh striker, Egy Maulana Vikri yang merumput di liga Polandia pada menit ke 4. Satu gol lain dihadirkan oleh Osvaldo Haay yang bergabung dengan Persebaya pada menit 84. Kemenangan ini menjadi modal awal yang bagus di tengah minimalnya prestasi cabang olahraga (cabor) paling digemari di tanah air. Namun, sang bintang Osvaldo Haay menyatakan bahwa mereka tak harus lengah dalam menyiapkan diri menghadapi lawan-lawannya untuk meraih emas yang sudah sangat lama tak diraih cabor itu di arena SEA Games.

Menurut rencana, Kontingen SEA Games 2019 akan dilepas oleh Presiden Jokowi dari Istana Bogor besok (Rabu, 27 November 2019) pukul 14.30 siang. Berkekuatan 841 atlet yang akan mengikuti 51 dari 56 cabang perlombaan/ pertandingan. Pesta Olahraga se Asia Tenggara 2019 ini akan berlangsung selama 12 hari, dari 30 November sampai dengan 11 Desember 2019. Dengan kekuatan yang dibawa, Kontingen Indonesia ditarget meraih 54 emas atau lebih banyak 16 medali kebanggan itu dibanding perhelatan serupa tahun 2017 yang hanya meraih 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu.  Hasil ini menempatkan Indonesia di posisi 5 besar.

Pada kesempatan kali ini, Kontingen Indonesia tidak diberi target mengejar juara umum karena peluangnya tipis sekali. Begitu kata Sesmenpora , Gatot Dewo Broto 18 November lalu. Terakhir, Indonesia  juara umum SEA Games pada 2011 ketika menjadi tuan rumah. Kita realistis saja, meski harapan untuk meraih puncak prestasi selalu digantungkan, tambah Gatot yang ditulis tirto.id dari sumber Antara. Di arena SEA Games, dua cabor yakni atletik dan renang yang menjadi nomor wajib dan tidak boleh diubah.

Cabor atletik di arena ini akan membawa 34 atlet yang sebagian besarnya masih muda dan debutan. Nama besar sprinter Lalu Mohammad Zohri tidak masuk daftar karena ia telah berada di level dunia dan memberi kesempatan kepada atlet lain untuk berprestasi. PB PASI hanya menargetkan 4 medali emas buat Agus Prayogo (pelari jarak menengah/ jauh), Emilia Nova (lari gawang), Hendro Yap (jalan cepat) dan tim lari estafet putra. Pada SEA Games 2017, para atlet cabor atletik Indonesia meraih 5 emas, tujuh perak dan tiga perunggu yang menempatkannya pada peringkat ke 4. Ancaman terbesar datang dari Vietnam, kata Manajer Tim Atletik, Mustar.

Kontingen Indonesia akan didanai, dengan APBN tentunya, maksimal 45 miliar. Pernyataan mantan Ketua KOI, Erick Tohir sebelum digantikan oleh Raja Octohari soal dana pengiriman Kontingen Indonesia ke SEA Games 2019 adalah angka maksimal. Cabor yang diikutisertakan dengan anggaran itu sebanyak 40, dengan kemungkinan bertambah atau berkurang menunggu hasil tim monev (monitoring dan evaluasi). Juga terbuka kesempatan bagi pengiriman atlet secara mandiri yang semua kebutuhannya dibiayai oleh sang atlet, cabor yang diwakili  dan/atau dengan dukungan sponsor. Jika memang demikian realitanya, apakah yang sebelas cabor adalah kontingen mandiri ? Sampai saat ini belum ada kejelasannya.

Tetapi, di balik cerita gembira tentang kemenangan Timnas Sepakbola U22 dan mungkin cabang-cabang olahraga lain, pada penyelenggaraan tahun 2017 di Malaysia ada cerita sedih dan layak direnungkan oleh kita semua. Sungguh mengenaskan cerita peraih emas nomor tolak peluru, Eki Febri, pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur Malaysia. Keluh kesah dirinya sengaja saya salin tempel cukup lengkap dari sumber ini  yaitu :

“Saya atlet peraih emas SEA Games 2017. Uang Akomodasi (Makan, Penginapan,dll) belum juga dibayar dari bulan Januari-Agustus. Padahal SEA Games sudah hampir selesai. Gimana mau maju? Birokrasi dan sistem olahraga di Indonesia yang ribet! @ina_seagames2017 bilang min pemerintah juga harus introspeksi terkait penyebab knp indonesia tidak maksimal di sea games skrg!” tulisnya di akun @ekifebri yang diposting @badmintalk_com.

Cerita yang membuat heboh dunia maya dan mengundang kontroversi itu, oleh sang Penulis ( Widodo Judarwanto ) ditutup dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuat saya termotivasi untuk menulis catatan ini. Kejadian yang menimpa atlet tersebut terjadi sebelum muncul kasus Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK) atas Deputi IV Kemenpora Bidang Pembinaan Prestasi.  Boleh jadi, keluh kesah atlet tolak peluru itu  merupakan salah satu jalan pembuka bagi KPK untuk menelusuri dana hibah KONI dari Kemenpora . Pertanyaannya adalah :

Siapa yang salah dalam amburadulnya prestasi Indonesia ini? Atletkah yang salah, nasibkah yang harus disalahkan atau pemangku dan pelaku kebijakaan yang saat ini selalu tidak pernah mau disalahkan?

(bersambung)

Puisi | Siluet Dini Hari

Siluet dini hari

 

Malam kian lelah

Bintang gemintang tak ayal mengajak ke peraduan

Ketika kaki ini melangkah …resah

Akankah kamu kembali ke masa lalu

 

Saat kelam menghimpit

hari tak bertepi

Tapak kaki ini mulai gontai

getar dan kian mengeras

Di antara suara gaduh..gigi yang saling beradu

Kepada siapa kepal tangan kuberikan…?

 

Mereka tak pernah tahu arti memberi

tangan tengadah dalam kesombongan

Dunianya sebatas telapak tangan

Jangan pernah tanyakan di mana sang bintang bersinar

Langit itu sebatas ruang sempit rutinitas

Bulan datang di tanggal muda

dan mentari bertirai kaca gelap

 

Jangan pernah tanyakan

apa yang telah kau buat untuk maslahat

Yang dia tahu hanya diri sendiri

dan sepinya malam tanpa ilustrasi

 

Resah dalam desah nafasmu…. mengharu biru

Burung malam berdendang merdu

Mengoptimalkan Potensi Atlet Berprestasi (Bagian 2)

Kisah sukses Femini, atlet paralympic Kabupaten Kebumen nomor atletik yang malang melintang di ajang internasional dan kini menikmati hasil jerih payahnya dengan beragam  cerita indah acapkali menjadi intro dalam berbagai kesempatan pertemuan keolahragaan. Tak kurang dari kesan Marinus Yosa, pelatih tinju bertangan dingin yang telah melahirkan banyak atlet berprestasi Kabupaten Kebumen untuk tingkat provinsi maupun nasional menegaskan hal itu. Sebagai atlet paralympic Pelatda Jawa Tengah, sering saya panggil Yus, dia memang merasa “iri” dengan Femini yang diceritakannya telah memiliki rumah bak rumah dinas bupati, mobil dan motor keluaran terbaru serta simpanan ratusan juta rupiah dalam nada sejuta tanya.

Masih dalam alur yang sama, kisah sukses para atlet paralympic hendaknya menjadi pelecut bagi yang normal. Begitu kata Mas Priyambodo, Pengurus KONI yang Pengurus cabang olahraga bola volley dan pernah berlatih sepakbola bersama ketika dilatih oleh Bupati Kebumen, Bapak Supeno Suyodiprojo, tahun 1977. Satu-satunya Bupati yang sangat dekat dengan masyarakat karena kesederhanaan sikap dan kehalusan budi bahasanya. Meskipun beliau dari kalangan militer (polisi, saat itu). Tidak hanya melatih, beliau juga memberikan sepatu dan kelengkapan latihan sepakbola.  Ada juga lapangan tenis dan shooting ball-nya yang sekarang tinggal kenangan. Di samping dua monumen kebanggaan masyarakat yakni Tugu Lawet dan Goa Jatijajar.

Kembali kepada kegilaan Yus dan saya pernah membuat “geger” kontingen Kabupaten Kebumen pada POR Provinsi Jawa Tengah 2009 di Kota Solo yang membuat pelatih tinju ini dipanggil oleh mantan Setda, Adi Pandoyo dan dipermalukan di depan anak buahnya.  Saat itu, saya adalah atlet cabang olahraga bridge yang lolos kualifikasi sebagai juara satu se ex  Karesidenan Kedu mengalahkan tim kuat Kabupaten Temanggung yang didukung penuh oleh pemerintahnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat dari pada kami bermodalkan dedikasi atas nama olahraga dan hobi.

Pada sesi yang saya tunggu, Dr.OR. Mansur, M.S., kembali memaparkan kisah Nabi Hud dan Sulaeman yang menginspirasi peserta pelatihan. Pemateri Perencanaan Program Latihan yang senantiasa berkesan eksentrik ini adalah mantan atlet klub  bola volley kenamaan, Yuso Jogja, dan chief de mision kontingen POMNAS Provinsi D.I. Yogyakarta 2019 ini sebagaimana telah disinggung pada tulisan pertama  adalah penyemangat KONI dan para atlet cabang-cabang olahraga berprestasi Kabupaten Kebumen. Bersama tim beliau, perkembangan dunia keolahragaan di daerah yang senantiasa dinyatakan miskin secara statistik dan dua kali diguncang OTT KPK ini terus dipantau dan berusaha diurai masalah mendasarnya : mentalitas. Artinya, daerah yang kaya sumber daya alam sangat potensial tidak diimbangi dengan dukungan serius dari pengambil kebijakan pembangunan daerah. Dengan modal kapasitas sumber daya manusia keolahragaan yang berkualitas baik cukup tersedia, momentum kepelatihan ini akan menjadi pemicu dan pemacu prestasi olahraga di masa depan. Terutama menghadapi POR Dulongmas (2020), Prakualifikasi PORProv (2021) dan PORProv (2022).

Popnas 2019 - Atletik 1

Ketika berbincang dengan Coach Edy Suparman di sela momen kepelatihan ini, dengan bantuan dana pembinaan sebesar 35 juta rupiah pada2019, beliau harus berjibaku memelihara peak performance atlet pelatnas yang tengah pulang kampung. Juga menyiapkan atlet di berbagi turnamen semisal Jatim Open di Gresik bulan depan dan sebagainya. Banyak hal memprihatinkan karena minimnya dukungan pengambil kebijakan daerah yang dibincangkan dengan penulis. Harapan yang acapkali harus berhadapan dengan realita ironis. Banyak prestasi yang telah digenggam dan akan semakin banyak potensi prestasi yang sangat mungkin diraih oleh para atlet cabang atletik binaannya yang mengharumkan nama daerah. Sang pelatih yang sangat layak mendapat predikat terbaik dalam kegiatan Workshop kali ini.

Senada dengan para pemateri dari FIK UNY yang mendedikasikan ilmu dan dirinya bagi kemajuan keolahragaan di Kabupaten Kebumen, saya pernah dan acapkali menyatakan bahwa tolak ukur kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kebumen bukan dengan indeks PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan kualitas SDM dengan  IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Tapi cukup ukur saja dengan prestasi olahraga dan kegiatan apresiasi budaya berkualitas yang didukung oleh pemerintah kabupaten. Meskipun hal ini debatable , dari sini akan nampak jelas bahwa faktor birokratik (DPRD dan Pemkab) yang sering gagal paham  dalam memaknai dunia olahraga prestasi yang identik dengan hasil /capaian kontingen Kabupaten Kebumen di ajang PORProv.

Karena itu, bagaimanapun hebatnya talenta serta kapasitas  seorang Marinus Yosa memandu bakat dan melatih para generasi muda lewat tinju, susur gua dan paralympic untuk menjadi atlet berprestasi yang mengharumkan nama daerah akan menjadi hal yang sangat tidak masuk akal dan kontra produktif tanpa dukungan memadai dari Pemerintah, DPRD dan masyarakat keolahragaan Kabupaten Kebumen. Begitu juga dengan Coach Edy Suparman (Edy Vijay) di bidang atletik yang mampu mengantarkan Fathma Hilmiya dan kawan-kawan menjadi kebanggaan daerah jika tack latihan saja tidak memadai untuk mendukung usaha mencapai peak performance .

Edy Vijay Suparman, Pelatih Atletik Kebumen

Banyak hal yang menjadi catatan penting dalam kegiatan Workshop Kepelatihan Pelatih Olahraga 2019 yang diselenggarakan oleh KONI Kabupaten Kebumen. Beberapa diantaranya telah disinggung pada tulisan pertama dan bagian awal tulisan ini. Kecintaan yang berkembang menjadi kegilaan menekuni cabang-cabang olahraga prestasi yang dilakukan oleh para pelatih dan atletnya tidak akan berujung dengan prestasi maksimal yang mengharumkan nama daerah tanpa dukungan positif dan optimal para pemangku kepentingan. Khususnya pengambil kebijakan pembangunan daerah. Pengalaman bertahun-tahun dan banyaknya atlet potensial hengkang ke luar daerah hendaknya jadi pelajaran berharga. Bukan hanya sekadar nyanyian sendu untuk menutup keprihatinan dan ketidakberdayaan.

Melalui media ini, saya tak sungkan menyatakan diri sebagai buzzer yang menggemakan kemaslahatan di dunia olahraga dan kebudayaan. Pada keduanya, keyakinan mengharumkan nama daerah dan kemudian sampai kepada Bangsa Indonesia terbuka lebar tanpa kekhawatiran akan kehilangan kemerdekaan berpikir, berpendapat dan bersikap. Semoga.

Tulisan ini juga diterbitkan di Kompasiana 

Mengoptimalkan Potensi Atlet Berprestasi [Bagian 1]

Melakukan tes pengukuran-aku

Para pegiat olahraga prestasi di daerah acapkali mendapat sebutan “orang gila (orgil)”. Kegilaan itu karena nyaris lupa diri atas keterbatasan kemampuan pengetahuan, pengalaman, dukungan materi dan sebagainya.  Mereka tidak hanya berani berdarah-darah ( nggetih – Jawa) ketika berusaha melakukan kegiatan yang menyangkut pembinaan prestasi cabang olahraga (cabor) yang digilai. Bertaruh nyawapun, kalau perlu, dilakukan. Ini tidak mengada-ada agar mendapat simpati. Kecintaan yang begitu mendalam pada cabang olahraga yang digeluti, kadangkala membuat para pegiat melakukan hal-hal di luar nalar dan berisiko pencibiran atau sejenisnya.

Dari 35 cabang olahraga yang berada dalam lingkup kordinasi KONI Kabupaten Kebumen, 30 anggota hadir pada perhelatan bertajuk “Workshop Kepelatihan Pelatih Olahraga 2019 ” yang dilaksanakan selama dua hari pada Kamis dan Jumat, 10 dan 11 Oktober 2019 di Ruang Tribune SMK N 1 (dulu SMEA Negeri). Ini kali kedua KONI Kabupaten Kebumen bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta (FIK UNY) setelah 2017. Dua pemateri utama yakni Dr. Endang Rini Sukamti, M.S., yang mengampu materi Pemanduan Bakat dan kandidat kuat Guru Besar. Beliau memaparkan temuan yang menjadi bahan disertasi di  cabor Renang berupa aplikasi pengukuran kadar unsur-unsur dalam pemanduan bakat yang diaku menghabiskan dana penelitian sekira 100 juta rupiah dan belum dipatenkan. Satu keberuntungan bagi para orgil yang hadir dan menyimak perhelatan ini. Sementara itu, pemateri Perencanaan Program Latihan (Dr.Or.Mansur, M.S) dijadualkan akan memberikan retensi dan pembaruan pengetahuan pada Jumat siang setelah Ishoma.

Penulis yang mewakili cabor Bridge di dua kesempatan emas ini (2017 dan 2019) merasa bangga dan terharu berada di tengah lingkaran orgil ini. Banyak muncul sosok muda dan berlatar belakang pendidikan tinggi keolahragaan. Mendapat banyak cerita dan masukan juga ketika ngobrol bareng disela waktu Ishoma. Ada yang datang dari cabor lawas semisal panjat tebing, ada juga yang baru seperti softball dan yongmodo. Ngobrol sersan sambil menikmati kopi hangat sedikit banyak menjadi retensi (pembuka memori) dan sebagian lainnya adalah informasi terbarukan.

Selain sosok-sosok muda yang menjadi “janji masa depan” prestasi olahraga daerah, ada beberapa sosok pelatih bertangan dingin dari cabor atletik (Edy Vijay), Marinus Yosa (Tinju) dan Dwi Aries Prambasto (Hockey). Juga banyak nama lain dari cabor beladiri: judo, silat dan yongmodo. Sementara itu, Kempo yang baru bangkit dari tidur lelapnya selama hampir dua dasawarsa, mulai awal 2018 tengah bekerja keras “meraih mimpi” menggapai lumbung medali karena nomor pertandingannya sangat banyak (20 – 30 nomor) di event resmi Porprov maupun PON.

(bersambung)

 

 

Energi Mereka, Daya Hidupku

Ini cerita picisan, recehan orang bilang begitu. Jadi, jangan berharap ada kata atau kalimat inspiratif. Apalagi yang memotivasi. Hanya cerita orang kampung yang biasa kampungan. Bisa dibaca dengan jelas saja sudah bagus. Mungkin sedikit romantis, tapi tidak melankolis. Ada sinis, klimis tanpa kismis yang manis. Tak berarah jelas, meski bertujuan pasti.

Perjalanan hidup manusia acapkali membawa cerita yang patut direnungkan. Meski tidak seindah karya sastra, novel percintaan yang berakhir bahagia. Karena bahagia atau sedih, bukan tolak ukurnya. Tetapi kecewa yang cukup mendalam mungkin saja jadi prolog atau apapun istilahnya. Dan kisah ini ibarat perjalanan mendaki puncak gunung Merapi. Satu gunung api teraktif yang medan dan suasananya telah diketahui dari jalur pendakian manapun. Tidak mudah diprediksi, sesekali mengundang sensasi agar hidup ini lebih berarti.

Sumber gagasan datang menghampiri benak dalam suasana yang sebenarnya kurang segar. Untuk kesekian kalinya, anak-anak Kelas 3 yang pernah belajar bridge meminta berlatih kembali. Bahkan dengan nada merengek, mungkin karena keinginan yang luar biasa dan tak tertahankan lagi. Setiap kali bertemu, permintaan itu diulang. Tidak hanya dari satu atau beberapa anak. Hampir semua menyatakan hal serupa. Dengan nada khas anak jaman now dan gaya masing-masing tentunya. Ada sesuatu yang membekas. Enak…asyik kata mereka.

Kata sohibul hikayat yang pandai bersilat,

lidah itu tak bertulang.

Tak terbatas kata yang keluar.

Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.

Di puncak Merapi ada bunga abadi

 

***

Firliana Nurulngaeni, putri sulung Bapak Nino Sutrisno. Kesehariannya sebagai pembuat kue basah jenis bakpao dan pukis yang dititip-jualkan di lapak kuliner Keposan dan pedagang kue-kue basah di Pasar Tumenggungan. Gadis mungil itu adalah pemantik daya hidup saya yang tengah meredup. Karena ulah orang-orang dewasa yang tak peka tanggung-jawab.

Dari depan rumahnya, di lingkungan padat penduduk Klenthengan. Dengan gaya khasnya, ia nyatakan hasrat dan semangatnya untuk berlatih kembali olahraga otak bridge yang pernah dipelajari bersama teman-teman sebaya. Jumlahnya delapan belas anak dari beberapa SD setahun lalu. Kata “kangen” yang senantiasa diucapkan setiap kali bertemu, sebenarnya cukup mewakili suara hatinya. Perempuan mungil yang berdaya hidup luar biasa.

Evan-Firli vs Brebes 1

Permintaan serupa dengan Firli, panggilan akrab Firliana datang dari hampir semua teman sekelas yang pernah berlatih bridge di rumah saya. Evan Pramudya, Aileen dan Amabel adalah sebagian diantaranya yang istiqamah. Konsisten menjaga api kehidupan dari redupnya suasana iklim pembinaan keolahragaan tidak kondusif bagi pengembangan cabang ini.

Tia n Lukman

Sejak dihapus dari mata lomba POPDA di tahun 2014, semua pelatih bersertifikat Program Bridge Masuk Sekolah (BMS) yang diselenggarakan oleh PB GABSI lewat pengurus provinsi dan dinas pendidikan mundur teratur dari dunia kepelatihan dan pembinaan atlet potensial berprestasi pada kelompok umur usia dini. Mereka adalah para guru olahraga dari berbagai SD di Kabupaten Kebumen. Meski begitu, masih ada satu hasil positif dari Program pemasalan olahraga bridge yang dinilai terbaik oleh Federasi Bridge Dunia (WBF) itu. Jejak Juara I Popda Jawa Tengah. Atas nama pasangan Muftiani SB dan Lukman Hakim yang mewakili UPT Disdikpora Kecamatan Klirong pada tahun 2013. Lalu apa hubungannya dengan ide cerita ?

Firli dan kawan-kawan dapat diibaratkan energi kinetik. Mereka punya daya gerak luar biasa.  Di saat saya mengalami masa jenuh dan hampir patah arang, pelan tapi pasti, anak-anak SD ini menggelitik nurani berkali-kali. Sampai kejenuhan yang kian mendekat titik beku, cair sedikit demi sedikit. Semangat belajar mereka itulah yang menepis semua rasa mengasihani diri akibat iklim dan kultur orang dewasa yang tak menyehatkan jasmani-rohani. Semoga mereka, Firli dan kawan-kawan serta Muftiani cs tetap istiqomah, rendah hati dan menjadi diri mereka sendiri. Masa depan menanti di masa bonus demografi. Ketika masyarakat Indonesia memperingati seabad Sumpah Pemuda dan menyongsong hari-hari jelang seabad Bangsa Indonesia menyatakan: Merdeka !

 

Luk Ulo 2012: A River Bank Festival in Kebumen, Central Java, Indonesia

Langkah Pertama Pasca Jeda- Satu

IMG-20180910-WA0030

Perjalanan hidup manusia tak ada yang pernah ada yang tahu selain Yang Maha Tahu. Kita, manusia biasa, hanya dapat berharap dari segala usaha yang mengiringi perjalanan itu. Ada kalanya naluri berseberangan jalan dengan nurani. Ketika naluri mengiyakan dan nurani menolak, ada jalan tengah yang harus dilalui. Tidak semata jalan tengah yang membagi rata diantara dua sisi tadi. Tentunya telah menghitung daya dan asa.

Dalam kondisi daya yang relatif rendah, ada upaya kecil tuk berbenah dan melangkah tertatih. Sedikit daya dan sejumput asa ditegakkan agar langkah tak lagi goyah. Semangat petarung tiada lelah dipompakan agar saat jatuh tak hilang akal. Naluri acapkali hadirkan daya di antara doa dan air mata. Tak berharap muluk berdiri tegak, apalagi berlari. Entah berapa kali jatuh, bangun dan memulai langkah baru.

Di ruang P Muas 9

Sesekali melintas gambar wajah-wajah plastik yang mudah berubah muka dan warna. Di antara rasa ngilu tertimpa tangga. Di sela suara gigi yang saling beradu keras. Dan di tengah buku jari yang mengepal. Semakin keras dan terus menggumpal. Ada tetes air kehidupan hadir, menembus kerasnya tulang belulang harga diri.

Aku tak ingin kasihani diri..

Biarlah luka yang menggores rasa itu masih menganga karena obat yang tertelan begitu pahit. Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan. Tapi aku tak ingin mati selagi mampu berdiri. Dan tetes air kehidupan itu kian mengalir ke dalam darah, jantung dan berproses di kalbu.

Masih Adakah Nurani Kebangsaan dan Kemanusiaan Di Dalamnya ?

Setelah menghamburkan uang rakyat miliaran rupiah, akankah #RUUKepalangmerahan akan bernasib sama dengan pendulunya, RUU Lambang ? Belajar dari pengalaman pahit pada saat berupaya mempertahankan keberlangsungan proses politik pada pembahasan RUU Lambang, semakin banyak sukarelawan PMI di seluruh Indonesia bersiap pasang badan sebagaimana dilakukan ketika bertugas di wilayah bencana dan konflik bersenjata untuk segera memiliki dasar hukum bagi organisasi Palang Merah Indonesia yang telah berkarya bakti bagi negeri Indonesia tercinta sejak sebelum masa kemerdekaan sampai sekarang.

kampoengrelawan's avatarkaryabaktiuntuknegeri

Berita terbaru tentang kemungkinan “hangus”-nya RUUKepalangmerahan” tak lagi mengejutkan karena memang telah diprediksi dengan ketiadaan niat baik dan tanggung jawab kepada publik (khususnya para petugas PMI yang menjadi bagian dari upaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia) dari Ketua Pansus, Anshory Siregar. Semua orang tahu bahwa partai politik yang diikutinya, PKS, telah ditolak bergabung dalam pemerintahan Jokowi dan JK. Sebagai upaya melawan lupa, anggota Pansus #RUUKepalangmerahan pernah melakukan kunjungan ke dua negeri yang konon sebagai bahan studi banding.

#RUUKepalangmerahan adalah pengganti RUU Lambang inisiatif Pemerintah RI yang bersumber dari hasil kajian Hukum Humaniter Internasional Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta sebagai bentuk kepedulian dan apresiasi kepada almarhum Elang Surya Lesmana yang menjadi korban “Tragedi Trisakti” 13 Mei 1998. Saat ia jadi korban penembakan oleh banyak saksi mata berasal dari sebuah helikopter yang berputar-putar di sekilat kampus tersebut. Ia adalah mahasiswa dan anggota sukarelawan PMI (Korps Suka Rela Unit) universitas yang tengah…

View original post 398 more words

Design a site like this with WordPress.com
Get started