HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN PER KAPITA DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) – 1

Gambar

Oleh : Algifari

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta
Jalan Seturan Yogyakarta 5528
Telepon +62274486160, 486321, Fax. +62274486155
E-mail: algifari@stieykpn.ac.id

ABSTRACT

The purpose of this study is to analyze relationship between income per capita and human development index (HDI). All countries are classified into four groups of achievement in human development: very high human development (with an HDI of 0.788 or above), high human development (with an HDI of 0.677–0,784), medium human development (HDI of 0.488–0.669), and low human development (HDI of less than 0.488). Pearson bivariat correlation is used to analyze relationship between income per capita and HDI. This research indicated that there were positive and significant correlation between income per capita and HDI for countries with very high HDI, high HDI, and low HDI, but there was no correlation between income per capita and HDI for country with medium HDI.

Keywards: Income per Capita, Human Development Index, Correlation.

 

PENDAHULUAN

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kegagalan yang dialami oleh suatu pemerintahan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sering disebabkan oleh banyak faktor, seperti kesalahan mengidentifikasi penyebab rendahnya kesejahteraan masyarakat, penerapan kebijakan yang keliru, kesalahan dalam mendefinisikan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mempermudah pencapaian usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan indikator tentang kesejahteraan masyarakat. Banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, akan tetapi pertumbuhan ekonomi menjadi suatu indikator yang sering menjadi pokok sasaran pembangunan. Karena, pertumbuhan ekonomi akan dapat meningkatkan pendapatan per kapita. Kenaikan pendapatan per kapita akan meningkatkan kemampuan (daya beli) masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan (Arsyad, 2004).
Pengukuran keberhasilan pembangunan telah berkembang dari waktu ke waktu. Tahun 1990 Perserikatan Bangsa Bangsa mulai memperkenalkan ukuran keberhasilan pembangungan melalui suatu indeks yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan suatu ukuran yang meliputi gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia, yaitu (1) usia panjang yang diukur dari usia harapan hidup, (2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang dapat membaca dan rata-rata tahun sekolah, dan (3) penghasilan yang diukur dengan pendapatan per kapita riil yang telah disesuaikan menurut daya beli mata uang masing-masing negara (Kuncoro, 2006).

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) didirikan tahun 1961 merupakan organisasi negara maju selalu menggunakan pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi dan sosial. Akan tetapi saat ini OECD mulai memperkenalkan indeks keberhasilan pembangunan baru yang disebut Your Better Life Index atau Indeks Kebahagiaan. Pengukuran indeks kebahagiaan ini menggunakan 11 indikator yang mencakup pendapatan, perumahan, pekerjaan, masyarakat, pendidikan, lingkungan, pemerintahan, kesehatan, kepuasan hidup, keamanan, serta keseimbangan antara pekerjaan hidup. Berdasar indeks kebahagiaan ini tidak selalu negara yang perekonomiannya maju atau pendapatan per kapita masyarakatnya tinggi memberikan kebahagiaan bagi masyarakatnya. Hasil kajian The New Economics Foundation (NEF) tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia yang memiliki pendapatan per kapita berada pada urutan ke 147 dengan pendapatan per kapita US$2.580 menempati urutan ke 16 pada daftar negara yang penduduknya paling bahagia. Sedangkan Amerika Serikat yang memiliki pendapatan per kapita pada urutan ke 18 dengan pendapatan per kapita sebesar US47.140 menempati urutan ke 114 pada daftar negara yang penduduknya paling bahagia. Artinya walaupun penduduk Indonesia memperoleh pendapatan per kapita yang jauh lebih rendah daripada Amerika Serikat, tetapi penduduk Indonesia lebih bahagia. NEF menempatkan Costa Rica sebagai negara yang memiliki indeks kebahagiaan tertinggi. Costa Rica yang merupakan negara kecil di Amerika Tengah dan perekonomiannya hanya mengandalkan pertanian dengan hasil utama kopi dan pariwisata memiliki pendapatan per kapita sebesar US$7.701 berada pada urutan ke 67 dari 183 negara, akan tetapi menempati urutan pertama dari 143 negara dalam hal indeks kebahagian. Berdasar indeks kebahagian tersebut, penduduk Costa Rica merupakan penduduk yang paling bahagia di bumi ini.

Ukuran lain tentang keberhasilan pembangunan adalah indeks kemakmuran (Prosperity Index) yang dikeluarkan oleh Legatum Institute. Legatum Institute melakukan perhitungan indeks kemakmuran terhadap 110 negara yang meliputi 90 persen penduduk dunia. Indiks ini diukur menggunakan 89 variabel yang dibagi ke dalam 8 kelompok, yaitu ekonomi, kewirausahaan dan peluang, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kebebasan personal, dan modal sosial. Berdasarkan indeks ini, negara yang memiliki indeks tertinggi pada tahun 2010 adalah Norwegia, disusul Denmark, Finlandia, Australia, dan Selandia Baru. Indonesia berada pada urutan ke 70 dan Malaysia pada urutan ke 43 dari 110 negara yang dilakukan pengukuran.

Walaupun terdapat banyak ukuran mengenai keberhasilan pembangunan suatu negara, akan tetapi banyak negara masih menggunakan IPM, termasuk Indonesia. IPM bukanlah suatu ukuran yang menyeluruh tentang pembangunan manusia, karena IPM hanya menggambarkan tiga dimensi kesejahteraan manusia, yaitu pendidikan, kesehatan, dan daya beli dan tidak memasukkan indikator-indikator penting seperti misalnya ketidaksetaraan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan politik. Namun demikian IPM memberikan sudut pandang yang lebih luas untuk menilai kemajuan pembangunan manusia serta dapat menghubungkan antara pendapatan masyarakat dan kesejahteraan manusia.

Ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi sampai saat ini masih menggunakan pendapatan per kapita penduduk. Kenaikan pendapatan per kapita yang dapat dicapai menunjukkan keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi. Pendapatan per kapita mencerminkan daya beli masyarakat. Dengan demikian jika terjadi peningkatan pada pendapatan per kapita masyarakat, maka daya beli masyarakat meningkat. Peningkatan daya beli masyarakat berarti kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk pendidikan maupun untuk kesehatan meningkat. Peningkatan yang terjadi pada pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat menunjukkan terjadinya peningkatan kesejateraan masyarakat tersebut. Oleh karena itu pendapatan per kapita dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan manusia (Arsyad, 2004). Akan tetapi pada kenyataannya kenaikkan pendapatan per kapita tidak selalu diikuti oleh kenaikan pemenuhan kebutuhan hidup yang lain, seperti kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan. Hal ini sering terjadi di negara-negara sedang berkembang yang memiliki karakteristik distribusi pendapatan yang timpang. Oleh karena itu diperlukan ukuran keberhasilan pembangunan yang lain yang mencakup pemenuhan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.

About totokaryanto

Saya dari Kebumen Jawa Tengah. Hanya orang biasa yang memiliki banyak kebiasaan. Suka kerajinan anyaman, jadi Relawan PMI, generasi muda Tentara pelajar dan belajar jadi guru buat diri sendiri.
This entry was posted in Ekonomi Makro and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s