Mencari Kembali Jatidiri Bangsa Bagia III dan IV

Reformasi Yang Kebablasan

Masyarakat awam selalu jadi korban

 

Jatuhnya pak Harto disusul oleh semangat reformasi yang menggebu-gebu, baik reformasi politik maupun reformasi ekonomi. Sesungguhnya tidak ada contohnya dalam sejarah reformasi ekonomi yang dibarengkan dengan reformasi politik yang membawa keberhasilan. Glasnot dan Perestroika menghasilkan kehancuran Uni Sovyet. Yugoslavia mengalami nasib yang sama. Ketika gerakan reformasi menjelang kejatuhan pak Harto sudah diingatkan kepada tokoh-tokoh reformasi seperti Amin Rais tentang bahaya reformasi yang berbarengan itu, tetapi semangat reformasi yang berlebihan membuat para pengusung reformasi mencurigai semua fikiran yang menghambat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi bias menggulingkan pak Harto, kata mereka. Mumpung pak Harto sedang terhuyung-huyung kita sikat sekalian berikut kroni-kroninya, begitu semangat mumpunya.

Limbah dari keterlantaran pembangunan jiwa bangsa ini mencuat selama proses reformasi dalam bentuk anarki, baik anarki di jalanan maupun anarki konstitusiona di Senayan. Eforia reformasi menjadi surge bagi kebebasan dalam segala bidang oleh setiap individu. Akibatnya otoritas pemerintah tidak efektif, ekonomi semakin semrawut, peluang korupsi semakin terbuka, asset berharga hilang, investor lari dan bangsa kehilangan arah. Amandemen demi amandemen hanya membuat jenis kelamin konstitusi menjadi tidak jelas. Banyak UU, PP dan Perda yang tumpang tindih. Habibie yang sebenarnya dihormati di dunia internasional justeru dilecehkan politisi yang sedang mengidap eforia demokrasi. Meski pemilu berlangsung secara jurdil dan sidang istimewa berlangsung sangat demokratis, tetapi MPR terkena musibah, terjadi kecelakaan sejarah, memilih presiden Gus Dur yang tidak memenuhi syarat kesehatan (fisik), Gus Dur yang dipilih dengan sangat terhormat kembali dilecehkan oleh yang memilih, di impeach sampai jatuh dengan alasan yang dibikin-bikin.

Sehabis Gus Dur muncul Megawati kemudian pemilihan secara langsung mengantar SBY menjadi presiden sejak 10 bulan lalu. Meski demikian suara sumbang, kritikan tajam, yang jujur konstruktip dan yang asal ngomong bersliweran dari Senayan maupun tokoh-tokoh selebritis politik.

Sungguh para pemimpin kita telah kehilangan kearifan, tidak mampu berfikir panjang, padahal perahu NKRI sedang diguncang oleh berbagai ombak, dalam dan luar negeri ?

Kekeliruan Bidang Pendidikan

Potret Buram Dunia Pendidikan Kita

Kualitas manusia ditentukan oleh dua hal, yaitu genetika (keturunan) dan oleh pendidikan. Tetapi system pendidikan nasional kita banyak sekali kelemahannya, antara lain:

  1. Pengelolaan pendidikan di masa lampau terlalu berlebihan pada aspek kognitip, mengabaikan dimensi-dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi yang mengidap split personality, kepribadian yang pecah.
  2. Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya bias memandang Jakarta (ibu kota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar yang tersedia di daerah masing-masing.
  3. Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdisiplin.
  4. Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global.
  5. Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-hak asasi manusia. Sebagai contoh, pada masa orde baru, guru negeri di sekolah lingkungan Dikbud mencapai    1 guru untuk 14 siswa.  Tetapi di madrasah (Depag)  hanya 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan dari Pemerintah misalnya di SMU negeri mencapa Rp 400.000,-/ siswa/tahun, sementara untuk Madrasah Aliyah hanya Rp 4.000,-/siswa/tahun.
  6. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.
  7. Sentralisasi pendidikan menyebabkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah.
  8. Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.
  9. Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotism yang dipaksakan yakni melalui P4 dan PMP, terlelu kering hingga kontra produktip.

Yang Lucu dan Nyata

Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional itu sekarang telah melahirkan buahnya yang sangat pahit yakni:

  1. Generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki kemampuan imajinatif idealistic.
  2. Angkatan kerja tidak bias berkompetisi dalam lapangan kerja global.
  3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatip.
  4. Pelaku ekonomi tak siap bermain fair.
  5. Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkhi.
  6. Sumber daya alam (terutama hutan) yang rusak parah.
  7. Cendekiawan yang hipokrit.
  8. Hutang luar negeri tak tertanggungkan.
  9. Meraja-lelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya, antara lain dengan bangga menyandang gelar akademik palsu.

10.  Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetap mengharap kucuran dana pusat, bupati daerah plus mengahmbur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak strategis.

About totokaryanto

Saya dari Kebumen Jawa Tengah. Hanya orang biasa yang memiliki banyak kebiasaan. Suka kerajinan anyaman, jadi Relawan PMI, generasi muda Tentara pelajar dan belajar jadi guru buat diri sendiri.
This entry was posted in Budaya dan Peradaban, pernak pernik kehidupan, Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Wacana Nasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s